sketch

July 2, 2007

Orang-Orang Yang Didoakan Malaikat

Filed under: Kafemuslimah

Orang-Orang Yang Didoakan Malaikat
Artikel Islam - Monday, 02 July 2007

Kafemuslimah.com

Insya Allah berikut inilah orang - orang yang
didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam
keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam
pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya
Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam
keadaan suci".
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang
diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah
sayangilah ia’"
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di
dalam shalat berjamaah.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang
berada pada shaf - shaf terdepan"
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat
berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam
shaf).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang
menyambung shaf - shaf"
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang
Imam selesai membaca Al Fatihah.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca
‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka
ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka
ia akan diampuni dosanya yang masa lalu".
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah
melakukan shalat.

Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu
bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara
kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,
(para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan
sayangilah ia’"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan
‘ashar secara berjama’ah.

Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada
saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai
hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari
hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada
siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul
lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik
(ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada
malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada
mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’,
mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang
melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan
mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka
pada hari kiamat’"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan
orang yang didoakan.

Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk
saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang
yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada
kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya
dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata
‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia
dapatkan’"
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana
pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2
malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang
berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah,
hancurkanlah harta orang yang pelit’"
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang -
orang yang sedang makan sahur"
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat
Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin
menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus
70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di
waktu malam kapan saja hingga shubuh"

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra.,
Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,
"Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas
seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang
yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya
penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam
lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada
orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"

(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al
Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber Tulisan Oleh :
Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan
Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir,
Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Donny S. Danaatmadja

May 7, 2007

Jadwal Puasa Sunnah 2007

Filed under: Kafemuslimah

 
1. Puasa pada hari Senin dan Kamis.

2. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan-’shaumul biidh’-
13.14.15 - penanggalan Islam - saat bulan purnama.
4, 5 Januari 2007/ Dzulhijjah 1427 H. (Tanggal 3 Januari 2007 bertepatan dengan hari tasyriq - 13 Dzulhijjah 1427 H, Hari tidak diperkenankan berpuasa).
1, 2, 3 Februari 2007/ Muharram 1428 H
3, 4, 5 Maret 2007/ Shafar 1428 H
1, 2, 3 April 2007/ Rabi’ul Awwal 1428 H
1, 2, 3 Mei 2007/ Rabi’ul Akhir 1428 H
30, 31 Mei & 1 Juni 2007/ Jumadil Awwal 1428 H
28, 29, 30 Juni 2007/ Jumadil Akhir 1428 H
28, 29, 30 Juli 2007/ Rajab 1428 H
26, 27, 28 Agustus 2007/ Sya’ban 1428 H
25, 26, 27 Oktober 2007/ Syawwal 1428 H
23, 24, 25 November 2007/ Dzulqa’idah 1428 H
24, 25 Desember 2007/Dzulhijjah 1428H.
(Tanggal 23 Desember 2007 bertepatan dengan hari tasyriq - 13 Dzulhijjah 1428 H. Hari tidak diperkenankan puasa).

3. Puasa 1/3 (sepertiga) bulan di bulan Dzulhijjah.
Antara 22 Desember 2006 - 19 Januari 2007 /Dzulhijjah 1427 H
Antara 11 Desember 2007 - [sekitar 8 Januari 2008] /Dzulhijjah 1428 H
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji (19 Desember 2007/Dzulhijjah 1428 H)

Tidak boleh berpuasa :
Hari Idul Adha - 10 Dzulhijjah/ 20 Desember 2007
Hari tasyriq - 11,12,13 Dzulhijjah/1, 2, 3 Januari 2007/Dzulhijjah 1427 H dan 21, 22, 23 Desember 2007/Dzulhijjah 1428 H

4. Puasa bulan Muharram - ‘Asyura’ selama 3 (tiga) hari -
Tanggal 9,10,11 Muharram. Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 ( Tasu’a dan ‘Asyura )Yakni : 28, 29, dan 30 Januari 2007/Muharram 1428 H.

5. Puasa pada sebagian bulan Sya’ban

Antara 14 Agustus - 12 September 2007.

6. Puasa pada bulan Syawwal - 6 hari.

Antara 14 Oktober - 10 November 2007
Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawwal

7. Puasa Daud
Berpuasa selang-seling. Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.

Puasa wajib
Puasa Ramadhan 1428 H :13 September 2007 - 12 Oktober 2007.


Ringkasan - Referensi :
Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq
Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani
Al-Islam- Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Kalender Tahun 2007 - Terbitan Gema Insani.

March 26, 2007

Ikhlas …

Filed under: Kafemuslimah

Saudariku muslimah… ketahuilah bahwa engkau dan manusia seluruhnya di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah.

Allah berfirman, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesaknKu).” (Adz Dzariyat 56)

Ibadah dilakukan oleh seorang muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah saudariku bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang muslimah, di samping dia harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam dalam ibadahnya.

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.“
(Al Bayyinah 5)

Ikhlas adalah meniatkan ibadah seorang muslimah hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam dan bertanya, “ Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?” Rasululllah sholallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “ Ia tidak mendapatkan apa-apa.”. Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah sholallahu ‘alaihi wassalam pun tetap menjawab, “ Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. “ Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Ketahuilah saudariku… bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah. Ikhlas hanya akan datang dari seorang muslimah yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan wanita pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seorang muslimah untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat. Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seorang muslimah bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia.

Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya. Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu.

Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah. Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah”. Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah” . Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pada hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.

Allah berfirman, “Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.” (Az Zumar 47-48)

“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104)

Saudariku muslimah… bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar.

 

Penulis: Ummu Habibah
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman

Maraji’: Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf, Tazkiyatun Nufus

 

 

January 3, 2007

Ummu Ruman

Filed under: Kafemuslimah

Nama lengkapnya Ummu Ruman Binti Amir bin Uwaimir bin Abdusyams bin Iqab hingga bermuara pada Kinanah. Nama aslinya adalah Zainab atau Da’d. Namun, ia lebih populer dengan panggilan Ummu Ruman.

Ia tumbuh besar dan hidup di kawasan yang disebut As-Surrah, sebuah kawasan berbukit di jazirah Arab.

Begitu memasuki usia baligh, ia langsung dinikahi oleh Harits bin Sakhbarah bin Jurtsumah Al-Khair, salah seorang pemuda sekampungnya. Ia melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka berinama Ath-Thufail.

Bersama suami dan anaknya, ia hijrah ke Mekah dan tinggal di sana dengan perlindungan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Setahun setelah tinggal di Mekah, suaminya meninggal dunia. Abu Bakar akhirnya menikahinya untuk melindungi ia dan anaknya.

Sosok Ibu Pengasuh
Dari istri sebelumnya, Abu Bakar dikaruniai dua orang anak, Asma dan Abdullah. Sementara itu, dengan Ummu Ruman, ia dikaruniai Aisyah dan Abdurrahman. Antara Asma dan Aisyah hanya terpaut sepuluh tahun.

Ummu Ruman mendekap dan mengasuh keempat anak-anak Abu Bakar, di samping anak hasil perkawinannya dengan Harits, Ath-Thufail, dengan penuh kasih sayang, seolah-olah mereka adalah anaknya sendiri.

Masuk Islam
Ia langsung menyatakan masuk Islam setelah keislaman suaminya, Abu Bakar. Ia termasuk kelompok pertama yang masuk Islam. Semua anak-anaknya pun mengikuti jejak orang tua mereka dan masuk Islam, kecuali Abdurrahman yang masuk Islam belakangan. Rumahnya pun menjadi rumah kedua dalam Islam setelah rumah Rasulullah SAW.

Ath-Thufail, anak hasil perkawinan pertamanya dengan Al Harits, juga msuk Islam dini dan ia pernah meriwayatkan hadits dari Aisyah r.a. Diriwayatkan dari Ath-Thufail bin Al-Harits, saudara seibu Aisyah dari Ummu Ruman, bahwasanya Aisyah pernah bercerita kepadanya bahwa Abdullah bin Az-Zubair pernah berkomentar atas jual beli atau pemberian yang diberikan Aisyah kepadanya, “Demi Allah, sungguh Aisyah harus mengakhirinya atau akan kularang ia membelanjakan harta.” (Ketika dilapori demikian) Aisyah berkata, “Ia berkata demikian?” Orang-orang menjawab, “Ya.” Ia pun menukas, “Demi Allah, aku bernazar tidak akan pernah berbicara sepatah kata pun dengan Ibnu Az-Zubair selama-lamanya.” (Mendengar nazar Aisyah ini) Abdullah bin Az-Zubair meminta tolong pada Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Al-Aswad bin Abd Yaghuts agar membujuk Aisyah untuk membatalkan nazarnya. Mereka berdua lantas meminta izin bertemu Aisyah dan ia mengizinkan keduanya. Keduanya lantas berbicara dengannya dan membujuknya untuk mengingat Allah, unsur kekerabatannya dengan Ibnu Az-Zubair, dan sabda Rasulullah SAW (Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya sesama muslim diatas tiga hari). Ia pun akhirnya memaafkan Ibnu Az-Zubair.

Ummu Ruman turut menanggung selakna cobaan yang dialami kaum muslimin di Mekah. Ia tampil menjadi penyokong terbaik suaminya, Abu Bakar, yang termasuk orang yang paling banyak dapat siksaan dan tekanan.

Istri Yang Disiplin
Ummu Ruman memiliki cara berpikir yang bijak dan disiplin. Saat Khulah binti Hakim, istri ‘Utsman bin Mazh’un, datang menemuinya dan berkata (penuh ketakjuban), “Hai Ummu Ruman, apa gerangan kebajikan dan kebarakahan yang dianugerahkan Allah SWT kepada kalian ini?” Ia menukas, “Apa itu?” Khulah binti Hakim lantas menjelaskan, “Rasulullah SAW mengutusku untuk meminang Aisyah untuk beliau.” (Bukannya langsung menjawab ya) Ummu Ruman malah menjawab, “Tunggulah Abu Bakar sampai ia datang (biar dia yang memutuskan).”

Ia begitu menghargai suami sembari menjelaskan keterpujian sifatnya. Ketika mengutarakan masalah pinangan Nabi SAW tersebut pada Abu Bakar, ia langsung berseru kepadanya, “Tunggu aku!” Ia lantas bergegas keluar.

Ummu Ruman pun lantas menjelaskan duduk perkaranya pada Khulah, “Math’am bin Uday telah menyunting Aisyah untuk anak laki-lakinya. Demi Allah, Abu Bakar tidak pernah berjanji apa pun kemudian ia langgar sendiri.”

Abu Bakar ternyata pergi menemui Math’am bin Uday yang mengurungkan pinangannya pada Aisyah karena takut anaknya bakal terseret masuk Islam. Abu Bakar pun pulang dan berkata pada Khulah, “Undanglah Rasulullah SAW kemari!”. Khulah pun mengundang beliau. Selanjutnya Abu Bakar segera menikahkan beliau dengan putrinya, Aisyah, yang kala itu masih berusia enam tahun.

Mukminah Penyabar
Ketika Nabi SAW memutuskan hijrah dan menunjuk Abu Bakar sebagai pendampingnya, Abu Bakar pulang menemui Ummu Ruman dan memberitahunya. Dipamiti demikian, Ummu Ruman sama sekali tidak gentar meski harus menghadapi bahaya sendirian di Mekah bersama putra-putrinya. Ia malah berkata, “Sebab beliau juga meninggalkan anak-anak dan berhijrah.”

Selama ketiadaan suaminya, ia praktis menjalankan fungsi kepala rumah tangga secara penuh hingga akhirnya pergi berhijrah bersama keluarganya semua, didampingi putra-putri Nabi SAW. : Fatimah dan Ummu Kultsum, juga istri Nabi SAW. (Saudah), dengan dikawal oleh Zaid bin Haritsah, Abu Rafi (budak pembantu Rasulullah SAW), dan Abdullah bin Uraiqizh yang diutus khusus oleh Nabi SAW untuk memboyong mereka, ditambah lagi dengan keikutsertaan Thalhah bin Ubaidillah. Jadilah rombongan itu laiknya rombongan cahaya.

Menjadi Ibu Mertua Nabi SAW
Sesampai di Madinah, Ummu Ruman berbincang dengan Abu Bakar r.a., “Abu Bakar, tidakkah sebaiknya engkau ingatkan Rasulullah SAW mengenai status Aisyah?” Abu Bakar segera menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Tidakkah Anda ingin membangun keluarga, wahai Rasulullah SAW?”

Perkawinan pun dilangsungkan. Aisyah r.a. bercerita, “Rasulullah SAW menikahiku saat aku berusia enam tahun. Kami datang ke Madinah dan menginap di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Di sana, aku terpatuk (ular berbisa) hingga rambutku rontok berguguran. Tiba-tiba, ibuku, Ummu Ruman, datang menghampiriku selagi aku masih asyik bermain ayunan bersama kawan-kawan sepermainanku. Ia berteriak memanggilku. Aku tergopoh-gopoh menghampirinya dan tidak tahu apa gerangan yang diinginkannya dariku. Ia raih tanganku samapi akhirnya ia hentikan aku di pintu rumah. Napasku tersengal-sengal (karena terus diseret ibu) hingga akhirnya pernapasanku kembali tenang. Ia lalu ambil sedikit air, lalu ia usap-usapkan ke wajah dan ke kepalaku. Kemudian, ia masukkan aku ke rumah. Di sana, sudah ada beberapa perempuan Anshar. Mereka berseru, “Semoga senantiasa kebaikan dan keberkahan melimpahimu.” Ia serahkan aku pada mereka. Secepat kilat, mereka dandani penampilanku. Aku belum betul-betul sadar akan apa yang terjadi, kecuali setelah Rasulullah SAW datang pagi-pagi. Ibu lantas menyerahkanku kepada beliau. Usiaku kala itu baru sembilan tahun.”

Tegar Menghadapi Badai Cobaan
Pada tahun keenam hijriah, tepatnya setelah Perang Bani Al-Mushthaliq, terjadillah fitnah ifk yang sengaja dipicu oleh orang-orang munafik untuk menjatuhkan kehormatan putri Ummu Ruman, Aisyah.

Nabi SAW pun sempat termakan isu itu dan memperlakukan Aisyah tidak seperti biasanya. Karena jatuh sakit memikirkan isu itu, Aisyah pun pamit pulang ke rumah orang tuanya agar bisa dirawat ibunya. Ummu Ruman sebenarnya sudah mengetahui isu yang beredar. Namun, ia sengaja menyembunyikan dari putrinya.

Diriwayatkan dari Masruq bin Al-Ajda, tuturnya bahwa Ummu Ruman, ibunda Aisyah r.a. bercerita kepadaku sebagai berikut.

Ketika aku dan Aisyah asyik-asyik duduk, tiba-tiba seorang perempuan Anshar datang seraya berseru, “Semoga Allah mengerjai fulan!”. Ummu Ruman bertanya, “Ada apa?”. Ia menjawab, “Anakku termasuk orang yang menceritakan berita itu.”. Ia bertanya lagi, “Berita apa?”. Ia jawab begini, begini. Perempuan itu lantas bercerita isu yang beredar di Madinah mengenai affair Aisyah.

Aisyah pun bertanya, “Rasulullah SAW sudah mendengar hal itu?”. Ia bilang, “Sudah”. Ia tanya lagi, “Abu Bakar?”. Ia jawab, “Sudah”. Ia pun langsung terjatuh pingsan. Saat tersadar, ia langsung terserang demam. Aku lemparkan bajunya padanya lalu menyelimutkannya.

Nabi SAW kemudian datang dan bertanya, “Ada apa gerangan dengannya?”. Aku jawab, “Ia terserang demam hebat”. Beliau menukas, “Mungkinkah ini karena isu yang sedang ramai diperbincangkan (menjadi buah bibir).”. Aku jawab, “Ya”. Aisyah duduk dan berkata, “Demi Allah, sungguh jika aku bersumpah sekalipun mereka tetap tidak mempercayaiku. Dan jika aku bilang tidak, kalian tetap tidak akan menerima alasanku. Aku dan kalian seperti Yaqub dan anak-anaknya (yang membawa berita palsu kematian Yusuf yang sengaja mereka buang). ‘Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ “(Q.S. Yusuf, 12:18)

Nabi SAW pun pamit pergi tanpa berkata sepatah kata pun. Allah akhirnya menurunkan kesuciannya (Dari isu tersebut). Aisyah pun berkata, “Dengan segala puji Allah, bukan puji siapa pun, bukan pula pujimu (Rasulullah SAW).”

Diriwayatkan dari Aisyah, kisahnya, “Begitu tersiar berita miring mengenai diriku yang tidak pernah aku ketahui dan aku lakukan sedikit pun, aku memutuskan untuk pulang ke rumahku seolah-olah apa yang aku alami sekarang ini belum pernah aku rasakan, banyak maupun sedikitnya. Aku benar-benar tersengat. Aku bilang pada Rasulullah SAW., ‘Pulangkan aku ke rumah ayahku.’. Beliau pun mengutus seorang pengawal untuk menghantarkanku.”

Saat masuk rumah, aku dapati Ummu Ruman dibawah, sedang Abu Bakar di lantai atas rumah, membaca (Al-Quran). Ibuku bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu datang begini, Putriku?”. Aku beritahu ia dan aku ceritakan kepadanya isu tentang diriku. Ia ternyata tidak mengalami seperti apa yang aku alami (pingsan dan jatuh sakit begitu mendengar berita miring tersebut). Ia berkata, “Putriku, tenanglah sedikit dalam menghadapi masalahmu ini. Demi Allah, sungguh tidak ada seorang pun perempuan berparas cantik lalu disukai oleh suaminya dan ia memiliki beberapa madu (poligami) kecuali mereka akan mendengkinya dan membuat desas-desus miring tentang dirinya.”. Ternyata, apa yang aku alami tidak sampai ia alami. Aku tanya,”Apakah Ayah sudah mengetahuinya?”. Ia jawab, “Sudah”. Aku tanya lagi, “Rasulullah SAW?”. Ia jawab, “Rasulullah SAW juga sudah tahu”.

Aku spontan menangis dan bercucuran air mata. Ketika mendengar suara tangisku, Abu Bakar yang sedari tadi membaca Al-Quran di lantai atas rumah segera turun dan berkata, “Oh, Ibu, apa gerangan yang terjadi padanya?”. Ummu Ruman menjawab, “ Begitu mendengar isu miring yang menyangkut dirinya, air matanya langsung mengalir deras.”. Abu Bakar berseru, “Sumpah atas dirimu, hai Putriku. Pulanglah ke rumahmu (rumah Rasulullah SAW)!”

Aku pun pulang diantar bapak dan ibuku. Mereka tetap menemaniku sampai akhirnya Rasulullah SAW masuk menemuiku setelah menunaikan shalat Ashar. Beliau masuk rumah, sedangkan aku diapit bapak dan ibuku di sebelah kanan dan kiriku. Beliau bertahmid memuji Allah dan memuja-Nya, lalu beliau berbicara. Aku toleh ayahku dan aku bilang kepadanya, “Jawablah beliau.”. Ia hanya menukas, “Apa yang mesti aku katakan.”. Aku toleh ibuku dan aku bilang kepadanya, “Jawablah beliau.”. Ia juga balik menukas, “Aoa yang musti aku katakan.”

Karena keduanya tidak mau menjawab, (mewakili diriku) aku pun lantas bertasyahud, lalu memuji dan memuja Allah dengan pujian ala kadarnya, kamudian aku katakan, “Amma ba’d, demi Allah, sungguh jika aku katakan pada kalian bahwa aku benar-benar tidak melakukannya dan Allah SWT menjadi saksi bahwa aku sungguh-sungguh berkata benar, hal itu tidak akan bermanfaat bagiku di hadapan kalian sebab kalian telah terlanjur membicarakannya dan hati kalian pun termakan olehnya. Jika aku katakan aku telah melakukannya dan Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melakukannya, pasti akan kalian bilang, ‘Ia telah mencelakakan dirinya sendiri.’. Demi Allah, aku tidak menemukan pemisalan yang tepat bagiku dan bagi kalian dalam situasi ini kecuali apa yang terjadi pada ayahanda Nabi Yusuf (aku berusaha melafalkan nama Yaqub, tetapi aku tidak kuasa melafalkannya) tatkala mengatakan, ‘(Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu) maka hanya bersabar itulah yang terbaik. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ (Q.S. Yusuf, 12:18).”

Ketika itulah turun wahyu pada Rasulullah SAW. Kami pun terdiam. Sejurus kemudian beliaumengangkat wajah. Bisa aku lihat dengan jelas bias keceriaan di wajah beliau saat beliau mengusap keningnya dan berkata, “Kabar gembira, hai Aisyah. Allah telah menurunkan wahyu pembebasanmu.”. Aku belum mampu melepaskan kemarahanku. Ketika bapak ibuku menyuruhku, “Berdiri dan sambutlah beliau.”. Aku sahut, “Tidak, Demi Allah aku tidak akan berdiri menyambutnya, juga tidak akan berterima kasih kepadanya, ataupun kepada kalian. Akan tetapi aku hanya memuji dan berterima kasih kepada Allah yang telah menyatakan kebebasanku. Sementara itu, telah kalian dengar isu ini, tetapi sedikit pun kalian tidak mengingkarinya ataupun mengubahnya.”” (H.R. Al-Bukhari)

Statusnya di Mata Rasulullah SAW
Ia memiliki status terhormat di mata Rasulullah SAW. Rasulullah SAW begitu menghormati pendapatnya, menghargainya, dan acap menanti-nantikannya. Rasulullah SAW juga selalu meminta pendapatnya mengenai masalah rumah tangga yang terjadi antara beliau dan Aisyah. Beliau pun sering meminta Aisyah untuk berkonsultasi kepadanya.

Tatkala turun ayat takhyiir (yang memaparkan dua opsi, yaitu tetap bersama Rasulullah SAW atau bercerai), beliau mengawalinya dari Aisyah. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku tawarkan satu keputusan kepadamu. Namun, jangan ambil keputusan sedikitpun terlebih dahulu sampai engkau kemukakan hal itu kepaa bapak ibumu, Abu Bakar dan Ummu Ruman.”. Ia menyahut, “Memangnya apa itu, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab, “Allah SWT berfirman, ‘Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian mengehndaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik diantaramu.’ (Q.S. Al-Ahzab, 33:28-29)”

Ia menukas, “Sungguh aku hanya menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan rumah akhirat. Aku tidak akan mengonsultasikan masalah itu pada bapak dan ibuku, Abu Bakar dan Ummu Ruman.”. Rasulullah SAW pun hanya tertawa. Beliau kemudian pindah ke kamar istri-istri beliau yang lain sambil mengatakan, “Aisyah bilang begini, begini.”. Mereka pun menjawab sebagaimana jawaban yang diberikan Aisyah. (H.R. Ahmad).

Wafat
Ummu Ruman r.a. wafat pada tahun keenam hijriah, setelah mengalami sakit singkat.

Rasulullah SAW turun ke kuburnya dan mendoakannya, kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang ingin melihat bidadari (surga) maka hendaklah ia melihat Ummu Ruman.”.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M